Pembahasan penyesuaian harga Pertamax hampir selesai, demikian disampaikan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif. Informasi ini diungkapkan usai pertemuan dengan Komisi VII DPR RI di Gedung DPR, Jakarta, pada hari Selasa (13/9).

Pertemuan yang berlangsung selama lebih dari 3 jam tersebut membahas mengenai penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax. Menurut Arifin, pembahasan penyesuaian harga Pertamax hampir rampung dan tinggal menunggu keputusan dari Presiden Joko Widodo.

Harga Pertamax yang saat ini masih berada di kisaran Rp 14.500 per liter, kemungkinan besar akan naik. Hal ini disebabkan oleh kenaikan harga minyak dunia yang terus meningkat.

“Kita masih menunggu keputusan dari Presiden, tapi kalau dari sisi teknis, kita sudah selesai,” ujar Arifin.

Pertemuan antara Kementerian ESDM dan Komisi VII DPR RI tersebut membahas mengenai beberapa hal, termasuk penyesuaian harga Pertamax dan penyaluran bantuan sosial untuk masyarakat yang terdampak kenaikan harga BBM.

“Kita membahas tentang penyesuaian harga Pertamax, dan juga tentang penyaluran bantuan sosial untuk masyarakat yang terdampak kenaikan harga BBM,” kata Ketua Komisi VII DPR RI, Sugeng Suparwoto.

Sugeng menjelaskan bahwa penyesuaian harga Pertamax harus dilakukan untuk mengatasi defisit anggaran yang dialami oleh Pertamina. Menurutnya, jika harga Pertamax tidak disesuaikan, maka defisit anggaran Pertamina akan semakin besar.

“Jika harga Pertamax tidak disesuaikan, maka defisit anggaran Pertamina akan semakin besar, dan itu tidak baik untuk keuangan negara,” kata Sugeng.

Namun, penyesuaian harga Pertamax juga harus mempertimbangkan dampaknya terhadap masyarakat. Oleh karena itu, pemerintah harus menyiapkan bantuan sosial untuk masyarakat yang terdampak kenaikan harga BBM.

“Kita harus mempertimbangkan dampaknya terhadap masyarakat, dan karena itu kita harus menyiapkan bantuan sosial untuk masyarakat yang terdampak kenaikan harga BBM,” kata Sugeng.

Pemerintah telah menyiapkan anggaran sebesar Rp 12,4 triliun untuk bantuan sosial bagi masyarakat yang terdampak kenaikan harga BBM. Bantuan sosial tersebut akan diberikan kepada 19,2 juta keluarga miskin dan 2,6 juta pedagang kecil.

“Kita telah menyiapkan anggaran sebesar Rp 12,4 triliun untuk bantuan sosial bagi masyarakat yang terdampak kenaikan harga BBM,” kata Menteri Sosial, Tri Rismaharini.

Tri menjelaskan bahwa bantuan sosial tersebut akan diberikan dalam bentuk uang tunai dan sembako. Bantuan sosial tersebut akan diberikan selama 3 bulan, yaitu September, Oktober, dan November 2022.

“Kita akan memberikan bantuan sosial dalam bentuk uang tunai dan sembako, dan itu akan diberikan selama 3 bulan,” kata Tri.

Pemberian bantuan sosial tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat yang terdampak kenaikan harga BBM. Namun, pemerintah juga harus memastikan bahwa bantuan sosial tersebut tepat sasaran dan tidak salah sasaran.

“Kita harus memastikan bahwa bantuan sosial tersebut tepat sasaran dan tidak salah sasaran,” kata Tri.

Dalam beberapa hari terakhir, harga minyak dunia terus meningkat. Harga minyak jenis Brent telah mencapai US$ 95 per barel, sedangkan harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) telah mencapai US$ 88 per barel. Kenaikan harga minyak dunia tersebut telah menyebabkan kenaikan harga BBM di dalam negeri.

“Kenaikan harga minyak dunia telah menyebabkan kenaikan harga BBM di dalam negeri,” kata Direktur Eksekutif Energy Watch, Mamit Setiawan.

Mamit menjelaskan bahwa kenaikan harga minyak dunia disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk penurunan produksi minyak di Amerika Serikat dan meningkatnya permintaan minyak di Cina.

“Kenaikan harga minyak dunia disebabkan oleh penurunan produksi minyak di Amerika Serikat dan meningkatnya permintaan minyak di Cina,” kata Mamit.

Mamit juga menjelaskan bahwa kenaikan harga minyak dunia juga dipengaruhi oleh ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah. Konflik antara Israel dan Iran telah menyebabkan ketidakpastian di pasar minyak dunia.

“Kenaikan harga minyak dunia juga dipengaruhi oleh ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah,” kata Mamit.

Dalam beberapa hari terakhir, konflik antara Israel dan Iran telah meningkat. Kedua negara tersebut telah melakukan serangan udara dan serangan roket. Konflik tersebut telah menyebabkan ketidakpastian di pasar minyak dunia.

“Konflik antara Israel dan Iran telah meningkat, dan itu telah menyebabkan ketidakpastian di pasar minyak dunia,” kata Mamit.

Mamit menjelaskan bahwa konflik antara Israel dan Iran dapat berdampak pada produksi minyak di Timur Tengah. Jika konflik tersebut semakin meningkat, maka produksi minyak di Timur Tengah dapat terganggu.

“Konflik antara Israel dan Iran dapat berdampak pada produksi minyak di Timur Tengah,” kata Mamit.

Pertamina sebagai