Pesawat ATR 42-500 yang sebelumnya dilaporkan hilang kontak akhirnya ditemukan di Puncak Bukit Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Penemuan ini membawa kelegaan bagi keluarga korban dan masyarakat yang telah menunggu kabar tentang nasib pesawat tersebut.
Menurut sumber yang dapat dipercaya, pesawat ditemukan dalam kondisi rusak berat, dengan kerusakan parah pada badan pesawat dan mesin. Tim penyelamat dan penanggulangan bencana telah dikerahkan ke lokasi kejadian untuk melakukan evakuasi dan penyelidikan lebih lanjut.
Kepala Basarnas Sulawesi Selatan, Brigjen TNI (Purn) Budi Purnama, mengatakan bahwa tim penyelamat telah menemukan beberapa korban dan sedang melakukan upaya evakuasi. “Kami telah menemukan beberapa korban dan sedang melakukan upaya evakuasi. Kami juga sedang melakukan penyelidikan untuk mengetahui penyebab kecelakaan,” kata Budi Purnama.
Pesawat ATR 42-500 yang dikemudikan oleh dua pilot dan membawa 48 penumpang, termasuk 3 anak-anak dan 2 bayi, melakukan penerbangan dari Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar, menuju Bandara Tanjung Pandan, Belitung, pada pukul 08.00 WITA. Namun, pesawat tersebut dilaporkan hilang kontak dengan menara pengawas sekitar pukul 09.00 WITA.
Menurut data dari Otoritas Penerbangan Sipil Indonesia (Otoritas Penerbangan Sipil Indonesia), pesawat ATR 42-500 memiliki catatan keamanan yang baik dan telah menjalani perawatan rutin sebelum melakukan penerbangan. Namun, penyebab pasti kecelakaan masih belum diketahui dan sedang diteliti oleh tim penyelidik.
Kecelakaan pesawat ATR 42-500 ini merupakan kecelakaan pesawat komersial terparah di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Kecelakaan ini juga menimbulkan kekhawatiran tentang keselamatan penerbangan di Indonesia dan memicu reaksi dari masyarakat dan pemerintah.
Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi, telah menyatakan bahwa pemerintah akan melakukan penyelidikan menyeluruh tentang kecelakaan pesawat ATR 42-500. “Kami akan melakukan penyelidikan menyeluruh tentang kecelakaan pesawat ATR 42-500 dan akan mengambil tindakan yang diperlukan untuk meningkatkan keselamatan penerbangan di Indonesia,” kata Budi Karya Sumadi.
Sementara itu, keluarga korban dan masyarakat yang terkena dampak kecelakaan pesawat ATR 42-500 telah menunggu kabar tentang nasib korban dan penyebab kecelakaan. Mereka juga meminta pemerintah untuk melakukan penyelidikan yang transparan dan adil.
Dalam beberapa hari terakhir, masyarakat Indonesia telah menunjukkan solidaritas dan dukungan kepada keluarga korban dan masyarakat yang terkena dampak kecelakaan pesawat ATR 42-500. Banyak orang telah mengungkapkan belasungkawa dan dukungan melalui media sosial dan berbagai cara lainnya.
Kecelakaan pesawat ATR 42-500 ini merupakan peringatan bagi kita semua tentang pentingnya keselamatan penerbangan dan perlunya peningkatan kesadaran akan pentingnya keselamatan di udara. Semoga kecelakaan ini dapat menjadi pelajaran berharga bagi kita semua dan dapat mendorong perbaikan keselamatan penerbangan di Indonesia.