Gunung Semeru, yang terletak di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, kembali erupsi pada Kamis malam. Ketinggian letusan mencapai 900 meter, menyebabkan kekhawatiran di kalangan masyarakat di sekitar gunung.
Menurut data dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), erupsi terjadi pada pukul 23.00 WIB. Letusan disertai dengan suara gemuruh yang terdengar hingga radius 8 km dari puncak gunung.
Masyarakat di sekitar gunung diimbau untuk waspada dan meningkatkan kesiapsiagaan. PVMBG telah meningkatkan status aktivitas Gunung Semeru menjadi “siaga” sejak 2 Desember 2021.
“Kami imbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas di radius 1 km dari kawah dan 4 km dari puncak gunung,” kata Kepala PVMBG, Kasbani, dalam pernyataan resminya.
Gunung Semeru adalah salah satu gunung api paling aktif di Indonesia. Sebelumnya, gunung ini telah erupsi beberapa kali, termasuk pada tahun 2020 yang menyebabkan longsor lahar dingin dan korban jiwa.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Suharyanto, mengatakan bahwa pihaknya telah siap untuk melakukan evakuasi jika diperlukan. “Kami telah menyiapkan tim evakuasi dan logistik untuk membantu masyarakat yang terdampak,” ujarnya.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif, juga mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan mengikuti instruksi dari pihak berwenang. “Kami akan terus memantau situasi dan melakukan koordinasi dengan pihak terkait untuk memastikan keselamatan masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, telah memerintahkan pemerintah daerah untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan melakukan evakuasi jika diperlukan. “Kami akan melakukan segala upaya untuk memastikan keselamatan masyarakat,” ujarnya.
Berdasarkan data dari PVMBG, Gunung Semeru memiliki tinggi 3.676 meter di atas permukaan laut dan terletak di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Gunung ini merupakan salah satu destinasi wisata populer di Jawa Timur.
Dalam beberapa tahun terakhir, Gunung Semeru telah mengalami peningkatan aktivitas, termasuk erupsi pada tahun 2014 dan 2018. Peningkatan aktivitas ini disebabkan oleh pergerakan lempeng tektonik di bawah permukaan bumi.
PVMBG telah memantau aktivitas Gunung Semeru sejak tahun 2014 dan telah melakukan pengukuran gas vulkanik, deformasi tanah, dan getaran gempa bumi untuk memantau aktivitas gunung.
Dalam beberapa hari terakhir, PVMBG telah mencatat peningkatan aktivitas Gunung Semeru, termasuk peningkatan emisi gas vulkanik dan getaran gempa bumi. Hal ini menyebabkan pihak berwenang untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan melakukan evakuasi jika diperlukan.
Masyarakat di sekitar Gunung Semeru diimbau untuk tetap waspada dan mengikuti instruksi dari pihak berwenang. Pemerintah daerah dan pihak terkait telah siap untuk melakukan evakuasi dan memberikan bantuan jika diperlukan.
Dalam beberapa jam terakhir, situasi di sekitar Gunung Semeru masih dalam pantauan. Pihak berwenang terus memantau aktivitas gunung dan melakukan koordinasi untuk memastikan keselamatan masyarakat.